jasmine

Ternyata benar, Allah maha mengetahui segala sesuatu. Dia tahu mana yang baik dan buruk untuk kita. Sesuatu yang kita anggap baik, mungkin saja menurut Allah buruk. Begitu juga sebaliknya. Hanya saja kita terlalu bodoh untuk mengetahui makna di balik setiap peristiwa.

Begitu juga dengan cobaan terakhir yang Allah beri untukku. Aku tak habis pikir, kenapa Allah menjauhkannya dariku? Kenapa Allah tak memberiku kesempatan untuk bersamanya lagi? Kalau memang aku tak bisa bersamanya, kenapa Allah mendekatkan kami lagi? Padahal aku sangat mencintainya. Padahal dia adalah the centre of my universe. Padahal aku merasa tak berarti tanpanya.

Dan jawaban Allah datang secepat aku menginginkannya. Saat itu juga.

Aku sedang berada di teras rumah, sedang mengasuh Jasmine, keponakanku. Anak kecil berusia 15 bulan yang imut, lucu dan menggemaskan. Aku duduk bersila di pintu, melamun memikirkan pertanyaan-pertanyaan tadi, sementara dia duduk di depanku bermain botol kosong.

Tiba-tiba saja dia mendekatiku, memelukku, kemudian mencium keningku. Lama. Aku kaget, ada apa dengan anak ini? Apa dia sedang teringat dengan ayahnya yang tengah bekerja di luar Jawa? Atau dia ingin menunjukkan rasa kangennya pada pakdhe-nya yang sudah 2 bulan lebih tak bertemu? Dia melepas pelukannya, tersenyum lucu, dan kembali asyik bermain dengan botol kosong.

Aku masih bingung dengan tingkahnya yang aneh itu ketika dia kembali berdiri dan mendekatiku. Kali ini dia memegang tanganku, kemudian mengusap-usapkannya di kepalanya. Aku semakin bingung. Apa yang ada di kepala anak ini? Tapi kembali dia cuma tersenyum padaku, senyum khas anak kecil.

Akhirnya, dia berdiri tepat di depanku, menjulurkan tangannya ke depan, kemudian menepuk-nepuk kepalaku seperti seorang ayah menepuk-nepuk kepala anaknya. Seolah ingin menyemangatiku. Lagi-lagi dia tersenyum, namun senyumnya kali ini jauh lebih lebar dari senyumnya yang sebelumnya.

Dan tiba-tiba kesadaran itu datang, menelusup dingin menyejukkan sanubari, seperti hujan yang turun di tanah kering. Inilah jawaban itu. Inilah jawaban Allah atas pertanyaan-pertanyaanku, atas protes-protesku. Dan Allah menjawabnya melalui Jasmine, anak kecil berusia 15 bulan, yang bahkan belum bisa bicara dengan jelas, yang untuk berjalan saja dia masih terjatuh-jatuh.

Aku merasa malu pada Jasmine. Jasmine yang kekurangan kasih sayang seorang ayah, Jasmine yang jauh dari ayahnya, Jasmine yang justru lebih dekat dengan pakdhe dan eyangnya, Jasmine yang setiap kali aku pulang dia tak mau turun dari gendonganku. Jasmine yang tiap kali jatuh dia berusaha bangun sendiri tanpa menangis. Jasmine yang imut, lucu dan menggemaskan.

Aku teringat isi SMS yang pernah dikirimkan seorang teman yang isinya (kurang lebih) seperti ini:

“Ketika aku berdoa agar diberi cinta, Allah tidak mengirimiku seseorang yang mencintaiku. Allah justru memberiku orang-orang yang butuh perhatian dan kasih sayang untuk kucintai. Agar aku bisa belajar mencintai, dan berusaha menjadi orang yang lebih layak untuk dicintai…”

Kurengkuh Jasmine, kupeluk dia erat-erat, kucium pipinya yang tembem dan kubisikkan di telinganya:

“Terima kasih,sayang…”

 *tulisan ini ditulis pertengahan tahun 2010, sempat hilang, dan baru bisa dimuat sekarang.

 

 

Iklan

Satu respons untuk “jasmine

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s