empat sisi dan selembar kertas

Mungkin seperti inilah yang dirasakan oleh Dostoevsky. Atau Ho Chi Minh, Soekarno, Sjahrir, Pramoedya, bahkan Mochtar Lubis. Mereka terkurung oleh empat sisi tembok penjara dan hanya ditemani selembar kertas.

Dingin. Kotor. Sepi. Gelap. Suram.

Sudah jutaan orang yang pernah merasakan berada dalam gelapnya penjara. Bermusuhan dengan teralis besi, berkawan dengan kertas. Namun hanya sebagian kecil orang yang berhasil menjadikan teralis sebagai sahabat, dan kertas sebagai pegangan hidup.

Fyodor Mikhailovich Dostoevsky. Pada musim dingin ia meringkuk di dalam penjara dengan deraan angin dingin, lantai penuh kotoran dengan tebal seinci, dan kerja paksa setiap hari. Ia mirip ikan herring dalam kaleng. Namun Siberia yang beku tidak berhasil membungkam kreativitasnya. Dari sanalah ia melahirkan karya tulis terbesarnya, seperti The Double dan Notes of The Dead. Ia menjadi sastrawan dunia.

Ho Chi Minh. Orang Vietnam yang biasa dipanggil Paman Ho ini harus meringkuk dalam penjara. Akan tetapi penjara tidak membuat dirinya patah arang. Ia berjuang dengan puisi-puisi yang ia tulis. A Comrade Paper Blanket menjadi buah karya kondangnya.

Soekarno. Pergerakannya yang dianggap subversif membuatnya dijebloskan ke dalam penjara oleh Pemerintah Hindia Belanda. Namun dia berangkat untuk menjalani masa hukumannya dengan membawa enam kopor besar berisi buku –jauh lebih banyak daripada pakaiannya sendiri. Seperti hendak pergi tamasya. Dan mungkin memang seperti itu persepsi Soekarno tentang penjara. Ketika ditanya, Soekarno menjawab, “Sahabatku, jika perang ini berakhir, Insya Allah saya akan menjadi Presiden pertama dari Republik ini.”

Sutan Sjahrir. Dibuang oleh Belanda ke Boven Digoel sebelum akhirnya dipindahkan ke Banda Neira. Pembuangan berarti demoralisasi. Pembunuhan intelektualitas secara perlahanlahan. Namun Sjahrir tetap ingat apa tujuan perjuangannya: mendirikan suatu bangsa yang intelek dan bermartabat, sejajar dengan bangsabangsa lain. Dia mengajarkan anakanak setempat membaca, menulis, berdebat, bahkan ketika masa hukumannya habis, membawa tiga di antara mereka belajar ke Jakarta.

Pramoedya Ananta Toer. Adalah jelas bahwa membuang seorang seniman ke Pulau Buru tanpa suatu benda pun yang bisa mendukung kreativitasnya, suatu kejahatan tersendiri. Bukannya menyerah, Pram menceritakan cerpennya secara lisan kepada temantemannya sesama tapol. Kisah itu demikian menggugah semangat, sampaisampai seorang temannya melarikan diri hanya karena satu alasan: “Aku ingin menjadi Minke!”. Minke adalah tokoh utama novel Bumi Manusia, salah satu masterpiece Pram yang membuatnya dionominasikan mendapat Nobel Sastra.

Mochtar Lubis. Inilahsosok wartawan yang tak pernah tunduk pada penguasa manapun. Harian Indonesia Raya yang dipimpinnya terbit dua kali pada dua periode yang berbeda –Orde Lama dan Orde Baru—dan pernah dibredel pada masingmasing periode karena terlalu kritis. Total Mochtar Lubis pernah dipenjara selama kurang lebih 9 tahun, sedangkan Indonesia Raya mengalami jeda terbit selama 10 tahun. Namun masa penahanan bukanlah masa untuk menyerah bagi Mochtar lubis. Buku Catatan Subversif, Nirbaya, dan beberapa novel lainnya adalah bukti konsistensi itu.

Empat sisi. Daripada itu kita lebih menyukai langit biru yang luas atau cakrawala tanpa batas. Namun empat sisi adalah suatu jeda. Suatu pemberhentian sesaat untuk lebih mengenal diri kita, apa yang kita impikan, apa yang kita perjuangkan.

Dan selembar kertas. Bukan bentuknya yang membuatnya penting, tetapi apa yang tertulis di atasnya. Kertas adalah jendela, kertas adalah sayap, kertas adalah langit biru. Kertas adalah impian, harapan, dan citacita itu sendiri.

Ini bukan cerita tentang kejatuhan seseorang. Ini adalah tentang proses bertahan hidup. Ini adalah kisah tentang kebangkitan, tentang pertarungan melawan sesuatu yang dianggap tidak mungkin, tentang perjuangan mempertahankan impian.

Empat sisi dan selembar kertas adalah sebuah pilihan: bermandi hujan ditengah kejayaan, atau tercebur lumpur di dalam kehancuran.

Solo, 23 Maret 2009.

Di antara kertaskertas berserakan, tumpukan buku referensi tak beraturan dan monitor yang menampilkan file skripsi.rtf,,

aku takkan menyerah.

Iklan

6 respons untuk ‘empat sisi dan selembar kertas

  1. cuma empat sisi kalo ujan keujanan dong? kalo emang cuma 4 sisi tolong amankan buku2 pinjaman itu ya bro,…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s