bermandi hujan, tercebur lumpur

“oh betapa nikmatnya

oh begitu indahnya

bermandi hujan di kala jaya

tercebur lumpur sewaktu hancur”

(Netral, Hujan)


Masamasa sekarang ini bisa dibilang adalah salah satu titik terendah dalam hidupku. Tak salah lagi.

Kuliah semester XII, di kampus tinggal (hitungan terakhir) ada 20 orang seangkatan yang belum wisuda. Bukan jumlah yang banyak kalo inget bahwa yang dah lulus sekitar 80 anak. Skripsi belum selesaiselesai, sekarang agakagak nyesel kenapa ngambil tema yang terlalu idealis. Kantong kosong, bukan karena tak ada pemasukan tetapi lebih karena goblok dalam penghitungan pengeluaran. Tak punya kerjaan. Jadwal rutin mingguanku sekarang hanyalah futsal di Rendezvous tiap Selasa siang, dan jogging di Manahan tiap Sabtu pagi.

Sementara temantemanku yang lain dah pada lulus. Beberapa orang dah pada kerja. Temanteman SMA dulu, yang kuliah di STAN atau tempat lain, malah dah pada nikah atau paling ga dah pada (mikir) nikah. Tiap ketemu mereka yang diomongin berkisar antara “eh, BUMN anu bulan depan ada bukaan lho” “oh ya? wah, mesti siapsiap nih”. Guyonannya juga dah beda. Si Fulan yang kerja di bank ketemu sama si Fulan yang kerja di dinas pajak: “eh, aku belum punya NPWP nih, hehe” “whats?? ntar taklaporin lho, hehe”. Aku bengong.

Wisuda adalah saatsaat lain yang penuh penderitaan: menghadiri pesta penuh kegembiraan orang lain di mana kita tak terlibat di dalamnya. Yang terakhir kemarin aku malah jadi pewe. Trus ketemu adik tingkat angkatan 2005 yang dulu jadi adik kelompok pas OSMARU, tapi dia juga dah ikutan wisuda. Parah banget.

Tiap kali selesai sholat adalah waktuwaktu favorit untuk berdoa, menyebutkan permintaan dan harapan yang ingin kucapai. Skripsi, tentu saja, adalah salah satu yang tak boleh ketinggalan. Tapi akhirakhir ini aku sampai bosan sendiri. Bukan karena kecewa garagara doaku tak kunjung dikabulkan, tapi karena lamalama aku merasa malu sendiri meminta hal seremeh ini. Pikirku, Allah pasti punya pekerjaan yang jauh lebih penting daripada mengurusi doa hambanya yang mbalela ini. Aku harus lebih banyak istighfar dan memohon ampun dulu sebelum berani meminta macammacam pada-Nya.

“oh betapa nikmatnya

oh begitu indahnya

bermandi hujan di kala jaya

tercebur lumpur sewaktu hancur”

Benarbenar nikmat. Dan indah. Oranglain bermandi hujan di tengah kejayaan mereka, sementara aku malah tercebur lumpur.

TERCEBUR lumpur.

Tercebur LUMPUR.

HANCUR.

Apalagi analogi yang lebih bagus dari ini?

Iklan

2 respons untuk ‘bermandi hujan, tercebur lumpur

  1. kau tak sendiri bro…(sory bukan bermaksud membuatmu terlena)
    tapi masih lebih enak kan…
    masih punya jadwal futsal.
    aku sudah lama gak punya jadwal itu dalam agendaku.
    teman2 dah pada bubar sendiri-sendiri.
    dikost juga sendiri.
    huahm….(ngantuk)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s