a different love

Aku melihatnya tanpa sengaja. Waktu itu aku sedang berada di RS Bersalin Budi Rahayu Magelang, menunggui Mbah Putri yang beberapa hari sebelumnya menjalani operasi rahim. Beberapa pengunjung sedang menengok Mbah Putri, jadi aku memutuskan untuk keluar mencari udara segar.

Di lorong rumah sakit, ketika berdiri tanpa melakukan apaapa. Dua orang perawat yang masih muda, lakilaki dan perempuan, berjalan melewatiku sambil mendorong sebuah kereta bayi. Mereka berhenti tepat di depan kamar sebelah. Salah satu di antaranya, yang lakilaki, membuka pintu dan bertanya, “Ibu Santi?”.

Setelah mendapat jawaban, si perawat perempuan mengangkat sesosok benda dari kereta bayi itu. Aku baru sadar kalau itu adalah seorang bayi –entah perempuan entah lakilaki—yang baru berumur, yah, beberapa hari. Si perawat lakilaki membukakan pintu, sementara si perawat perempuan membawanya masuk dan menyerahkan bayi itu kepada wanita yang duduk di atas ranjang. Setelah itu kedua perawat itu keluar dan berlalu.

Pintu kamar hanya terbuka sekilas ketika sang bayi dibawa masuk, namun aku sempat melihat bagian dalam kamar. Dan ketika itulah aku melihatnya.

Sesosok ibu muda, berusia 20-an, duduk di tepi ranjang. Kulitnya putih bersih, sementara rambutnya diikat ekor kuda. Dari wajahnya yang pucat nampak sisasisa kelelahan dan kesakitan yang dideritanya beberapa waktu sebelumnya. Namun ketika si bayi diangsurkan ke dalam pelukannya, raut wajahnya nampak berbeda. Semua penderitaan hidupnya sampai beberapa detik tadi seolah lenyap tanpa bekas.

Sang ibu tersenyum menyambut buah hatinya. Bukan senyuman biasa, melainkan senyuman terindah yang pernah kulihat. Seolaholah dia menerima sebentuk perhiasan yang tak ternilai harganya di alam semesta. Tatapan matanya penuh kerinduan, seolah bertemu dengan seseorang yang dinantikannya sekian lama.

Ketika si bayi telah sampai dalam pelukannya, aku seperti melihat cahaya putih bersih keluar dari kedua sosok itu. Bukan cahaya yang menyilaukan, tapi cahaya yang menyejukkan, menenangkan. Cahaya yang membuat suasana di sekitarnya terasa hangat seperti sinar mentari pagi. Mungkin ini efek dari jendela yangterbuka di samping ranjang sang ibu, namun keduanya benarbenar terlihat bersinar di mataku.

Pintu tertutup. Namun kejadian di kamar itu tak bisa hilang dari benakku. Selama beberapa saat aku berdiri mematung di lorong rumah sakit, merenungkan tentang sebentuk cinta yang rasanya lama sekali tak pernah kusadari. Sebentuk cinta yang berbeda. Cinta antara orangtua kepada anaknya. Betapa beruntungnya bayi itu, pikirku. Berada dalam pelukan ibunya, diselimuti dengan kasih sayang dan cinta yang sedemikian besarnya.

Dan tibatiba saja aku menyadari sesuatu. Selama ini aku juga mendapatkan kasih sayang dan cinta yang sama besarnya seperti bayi itu. Namun jangankan membalas cinta itu, seberapa seringkah aku benarbenar menyadari bahwa cinta itu benarbenar ada? Ya Allah…

Aku teringat dengan sebuah cerita yang pernah kubaca. Seorang pria mengadu kepada Umar bin Khattab tentang ibunya yang telah renta dan sakitsakitan. Si pria ini berkata, “Aku merawatnya dengan baik setiap hari, aku menyuapinya dengan tanganku sendiri, aku menggendongnya kemanapun dia mau pergi. Aku juga mendoakannya dalam setiap sujudku. Apakah yang kulakukan ini sudah sebanding dengan apa yang diberikannya padaku?”

Umar menjawab tegas, “Sekalikali pun tidak! Kau tak akan bisa membalas semua yang telah diberikan dan dilakukannya untukmu. Itu karena kau merawatnya sambil menunggu kematiannya, sedangkan dia dulu merawatmu sambil menunggu kehidupanmu.”

Ya Allah. Tibatiba aku merasa sebagai Malin Kundang. Ibu, maafkan aku…

Iklan

2 respons untuk ‘a different love

  1. the power of love… a mother’s love… ah, aku jd keinget ummi… *mantapp dong klo seorang ibu itu udah berdo’a buat anaknya! waw!!! jangan meremehkan do’a ibu! aku bnar2 takjub oleh do’a seorang ibu itu… subhanallah..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s