mengambil peran

“Saya selalu berkeyakinan,” kata M Anwar Sani, Direktur Eksekutif kantor pusat ketika berkunjung ke kantor Solo Baru, “selama niat kita baik, cara kita benar, dan ikhtiar kita maksimal, kita nggak usah khawatir sama hasilnya.”

Sani, demikian beliau biasa disapa, mencontohkan spanduk-spanduk kampanye zakat milik kantor Jakarta yang dicopoti oleh Satpol PP. Bukannya kapok, besoknya kita pasang lagi spanduk di tempat yang sama. Kalau disita lagi, besoknya pasang lagi. Begitu seterusnya. Inilah contoh ikhtiar menurutnya.

“Dan saya yakin, spanduk-spanduk yang sudah disita itu masih bisa mengajak orang untuk berzakat. Siapa tahu Kepala Satpol PP-nya malah penasaran, ‘ini spanduk apaan sih kok nekat banget’, membacanya, lalu malah tergerak untuk berzakat,” kata Sani tersenyum.

Niat yang baik, cara yang benar, dengan ikhtiar yang maksimal. Itu kunci untuk meraih hasil yang terbaik. Dan ketika hasil yang dihasilkan itu meleset, tak perlu berkecil hati. Masih ada ‘imbalan’ yang lebih besar: pahala Allah SWT. “Masak sih Allah salah menghitung amalan-amalan hamba-Nya,” tukas Sani.

Ya, Allah memang tak pernah melihat apa atau siapa diri kita. Allah hanya melihat amalan apa yang kita lakukan, selama niatnya baik, caranya benar, dan dilakukan dengan ikhtiar yang maksimal. Tak perduli orang itu orang kaya, pengusaha, guru, pejabat tinggi, amil zakat, atau bahkan pengemis sekalipun.

Ini mirip dengan lagu yang pernah populer beberapa tahun lalu: Dunia ini panggung sandiwara. Dan memang seperti itulah adanya kehidupan ini. Dalam hidup, kita memiliki peran masing-masing yang berbeda dengan orang lain. Entah itu sebagai orangtua, guru, majikan, pembantu, atau pelajar. Tidak ada yang namanya peran besar atau kecil. Yang penting peran itu diambil dengan penuh kesadaran dan dimainkan dengan sebaik-baiknya.

Sejarah telah mencatat orang-orang yang berhasil memainkan perannya dengan baik demi tegaknya kejayaan Islam. Lihatlah Sholahuddin Al-Ayyubi. Panglima pasukan Muslim dalam Perang Salib ini menjadi sosok yang dihormati kawan maupun lawan karena keberaniannya. Pada siang hari dia berperang bagaikan singa, pada malam hari dia tenggelam dalam sujud dan tangis kepada Allah. Kebesaran jiwanya juga terbukti ketika dia mengirimkan tabib muslim untuk mengobati Raja Jerusalem yang menderita kusta. Padahal sang raja adalah raja pasukan Nasrani, musuhnya di medan perang.

Lihatlah Umar bin Khattab, Sang Singa Gurun. Ketika masih kafir dia begitu membenci Rasulullah dan ajarannya. Namun ketika mendengar lantunan surat Al-Kafirun, hatinya tergetar, batinnya menagis. Dia seketika berubah 180 derajat menjadi pengikut Nabi Muhammad SAW. Pedang yang biasa disandangnya untuk membunuh Nabi diacungkannya untuk satu tujuan yang berbeda sama sekali: melindungi Nabi dan pengikutnya dari ancaman kaum kafir Quraisy.

Kita mungkin merasa tak sanggup membandingkan diri kita dengan Sholahuddin Al-Ayyubi, Umar bin Khattab, Abu Bakar Asshidiq, atau sahabat-sahabat lainnya. Peran yang mereka mainkan terlampau tinggi untuk coba dimainkan oleh orang-orang yang –katakanlah— memiliki peran kecil seperti kita. Namun itu bukan berarti kita tak bisa menjadi orang-orang ‘besar’ seperti mereka.

Yang terpenting adalah niat yang baik, cara yang benar, dengan ikhtiar yang maksimal. Anda yang berprofesi sebagai guru, misalnya, bisa memainkan peran Anda dengan menjadi guru yang terbaik. Mendidik anak-anak dengan kecintaan yang mendalam, dengan kebanggan yang tinggi, dengan harapan yang besar bahwa di antara anak-anak didik Anda akan ada orang-orang yang membawa kejayaan bagi bangsa, negara dan agamanya. Ilmu yang diajarkan juga akan terus dihitung pahalanya melampaui usia manusia, sebanding dengan doa anak yatim dan harta yang disedekahkan.

Bahkan Anda yang hanya menjadi ibu rumah tangga pun tak perlu berkecil hati. Anda bisa bisa memainkan peran Anda dengan merawatdan mengasuh buah hati Anda, mengajarinya ilmu agama dan akhlak-akhlak yang mulia. Karena sosok Ibu adalah guru sepanjang masa dimana di bawah telapak kakinyalah surga berada. Ibu sebagai matahari dari keluarga juga berperan sebagai pelindung bagi anggota keluarga yang lain dengan kasih dan cintanya. Contohnya Siti Khadijah. Ketika Nabi Muhammad mendapat wahyu untuk pertama kalinya di Gua Hira, Nabi pulang dalam keadaan gemetar dan berkeringat dingin. Khadijah-lah sebagai istri yang setia kemudian menyelimuti beliau, menenangkannya, bahkan menjadi yang pertama meyakini kenabian Muhammad.

Lalu bagaimana dengan kaum berpunya? Dalam sebuah hadisnya Rasulullah SAW pernah bersabda, bahwa di antara empat hal yang menentukan tegaknya dunia (masyarakat) adalah dermawannya kaum berpunya, di samping ilmunya para ulama, hadirnya pemimpin yang adil, dan doanya orang miskin.

Artinya, kedermawanan menjadi salah satu syarat tegaknya dunia Islam. Ketika pemimpin kita belum menegakkan keadilan dengan seutuhnya, dan fatwa-fatwa ulama tak lagi mendapatkan perhatian, kedermawanan menjadi satu hal yang tak boleh ikut-ikutan lenyap. Lewat sedekah, kesenjangan sosial akan hilang, jurang antara si kaya dan si miskin akan menyempit. Tak ada lagi kemiskinan yang kadang bisa membuat si miskin menukar keimanan dengan sepotong roti. Lewat sedekah pula kaum berpunya bisa membantu saudara-saudara kita yang lain, baik itu guru, dai, dhuafa, atau anak yatim, agar mereka bisa memainkan perannya dengan sebaik-baiknya.

Sejarah tidak hanya mencatat orang-orang besar saja, atau perbuatan-perbuatan besar saja. Orang-orang biasa –dengan niat yang baik, cara yang benar, dengan ikhtiar yang maksimal– juga berkesempatan untuk tercatat dalam sejarah. Namun jika sejarah tak menuliskan nama kita dalam lembarannya, maka tak perlu berkecil hati. Karena tujuan kita bukanlah kekayaan atau kejayaan pribadi, melainkan hanya ridho Allah SWT semata. Dan Allah tak pernah salah menghitung amalan-amalan hamba-Nya.

Iklan

5 respons untuk ‘mengambil peran

  1. busyeeD,,puanjang banged kuadrat gene bRo!!??

    haduh, si bro mah, bukanne nulis sekeripsi malah nulis panjang2 @blog,,

    heqheq,

    gapapa bro, bagus sekali ituh, salut!
    kalo mo jadi penulis best seller katane kita kudu nulis apa aja minimal 1 lembar/hari.

    tulisanne bagus,,sudah tertata rapi,baik kata maupun hub antar paragrafne (heleh, sok analisa a la guru basa indo neh =p),,tapi sa baca dikit jah, coz burbur,,jadi mayu neh tulisan sa masih payah bgd,,mo nulis lagi sih, tapi ide tu muncul selalu paz lagi ga depan kompie =(

    sekian ja bro, mv lo kurang panjang =p

    -cla-

  2. nu, umar bin khattab itu akhirnya jd masuk islam karena denger surat Thahaa : 1-8 bukan al Kafiruun… 🙂

    ini aseli tulisanmu, nu??? impossible!! ;)) hihihiii

    “Kita mungkin merasa tak sanggup membandingkan diri kita dengan Sholahuddin Al-Ayyubi, Umar bin Khattab, Abu Bakar Asshidiq, atau sahabat-sahabat lainnya. Peran yang mereka mainkan terlampau tinggi untuk coba dimainkan oleh orang-orang yang –katakanlah— memiliki peran kecil seperti kita. Namun itu bukan berarti kita tak bisa menjadi orang-orang ‘besar’ seperti mereka.”
    mmm, i’d like to say like this : setiap orang itu punya kelebihan dan kekurangannya. dan peran setiap orang dalam membangun pondasi Islam itu sama bebannya. ga ada yg besar dan kecil. semua berarti di hadapan Allah. mungkin untuk ukuran kakek2 jihadnya (kesungguhannya) itu berbeda dengan anak muda perkasa, atau seorang rasul dengan pengikutnya. karena beban setiap orang itu akan sesuai dengan kesanggupannya. bukankah Allah berfirman bahwa seseorang itu akan diuji sesuai kesanggupannya.. (forgive me that much, i forgot where is it mentioned in al Qur’an :p) yaa, gitulah..

    nu, maap ya.. sekalinya komen panjang kali lebar gini. hehehe 😀 dah macam posting ajah ;))

  3. “copast dari mana nu?”

    copast dari tulisan di CARE,,yang mana adalah tulisan saya sendiri…
    ga mungkin bgt yak? ya nama kategorinya aja “dhanu? nulis kayak ginian? ga banget deh nu”, san. jadi mungkin ga mungkin emang ini tulisan saya.

    jangan lupa masukan dan kritikannya ya san…

  4. “nu, umar bin khattab itu akhirnya jd masuk islam karena denger surat Thahaa : 1-8 bukan al Kafiruun… :)”

    oh, gitu ya yan? ;p ya maklum,,saya kan masih harus banyak belajar…hehehe.
    ya ini sekaligus sebagai ralat deh.

    “ini aseli tulisanmu, nu??? impossible!! ;)) hihihiii”

    kamu orang kedua yang ngomong gitu. kejam…;(. liat dong kategorisasi tulisannya: “dhanu? nulis kayak ginian? ga banget deh nu”. kayaknya emang ga mungkin bgt,,tp ini beneran tulisanku lho, sumpah!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s