fajar esok pagi

”Jika kamu berada di pagi hari, janganlah memikirkan tentang sore hari. Jika kamu berada di malam hari, janganlah memikirkan tentang pagi hari.”

Berada di masjid selalu mengingatkanku pada dua hal yang sering aku lupa. Pertama, bahwa masjid adalah tempat yang paling sejuk ketika suasana panas, tempat paling hangat ketika kedinginan, tempat paling ramai ketika kesepian, dan tempat paling sepi ketika ingin menyepi.

Hal yang kedua adalah bahwa kita bisa memperoleh jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang kadang-kadang mengganggu pikiran kita. Seperti kalimat di atas misalnya, yang diucapkan khotib sholat Jumat di Masjid Al-Fattaa, Petoran, Jumat (7/11) lalu. Kalimat yang sederhana, langsung masuk ke dalam pikiranku, dan merupakan jawaban atas kegelisahanku.

Waktu itu aku memang sedang gelisah memikirkan kehidupanku. Aku merasa gamang dan raguragu dengan masa depanku. Kapan aku lulus? Mau kerja di mana? Dengan siapa aku akan menikah? Apa aku bisa meraih impian-impianku?

Pikiran-pikiran itu terus berkeliaran di benakku. Skripsi yang sedang kukerjakan rasanya berat sekali untuk dilanjutkan. Masalah keuangan juga menjadi pemikiranku. Aku tak tahu besok akan bekerja di mana. Aku masih ingin jadi wartawan, tapi aku masih belum memiliki lagi semangat dan keberanian seperti dulu. Aku takut aku hanya akan jadi pegawai negeri, kerja santai-santai, di tempat yang ’kotor’, dengan gaji yang tak seberapa, pensiun, dan sampai mati tetap hidup susah. Aku takut menghadapi masa depanku, aku takut menghadapi hidup ini…

Dan ketika aku tengah bimbang, khotib mengucapkan kalimat ’sakti’ itu.

”Jika kamu berada di pagi hari, janganlah memikirkan tentang sore hari. Jika kamu berada di malam hari, janganlah memikirkan tentang pagi hari.”

Aku tersadar, kenapa aku harus takut dengan sesuatu yang belum terjadi? Takdir memang telah digariskan, namun selama aku belum mengalaminya aku tak boleh menyerah. Aku harus berusaha meraih apa yang aku impikan, apa yang aku cita-citakan, apa yang aku inginkan. Tak ada kata tak bisa!

Aku tak boleh terpaku pada masa lalu. Masa lalu hanya akan membuatku berandai-andai: ’andai aku dulu…’, ’andai waktu itu aku…’, ’andai aku tidak…’. Berandai-andai tak akan ada habisnya. Hanya akan membuatku semakin menderita. Kalau aku menyesal dengan apa yang kulakukan dulu, maka aku harus berusaha agar suatu saat aku tidak menyesali masa kini.

Tak ada yang namanya masa depan. Semuanya ada untuk hari ini. Allah hanya akan memberikan ujian yang bisa diselesaikan hamba-Nya, Allah hanya akan memberikan amanah yang bisa ditanggung hamba-Nya, Allah hanya akan memberikan rizki kepada hamba-Nya yang pantas mendapatkannya! Tak usah pikirkan esok pagi. Jika aku bisa menyelesaikan ujian yang diberikan-Nya malam ini, jika aku bisa memegang amanah yang diberikan-Nya malam ini, jika aku bisa mensyukuri semua rizki yang diberikan-Nya malam ini, maka aku yakin aku bisa menghadapi esok pagi!!

Dan aku yakin, fajar esok pagi akan cerah.

Iklan

Satu respons untuk “fajar esok pagi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s