PSIS-ku sayang, PSIS-ku malang

Pagi itu Yudha menyambutku dengan berita mengejutkan: “Ediyan tenan, Yoyok Sukawi wingi sore ngantemi wasit!”. Aku terhenyak. Yoyok Sukawi adalah manajer tim PSIS Semarang. Sore sebelumnya, PSIS Semarang menghadapi tamunya PSMS Medan dalam lanjutan Djarum Indonesia Super League 2008. Yoyok mencoba memukul wasit yang dianggapnya berpihak pada tim lawan. “Pasti ini alasan biar dia diganti dari posisi manajer,” lanjutnya.

Penampilan PSIS musim ini memang mengecewakan. Beberapa kali kalah, hanya seri di kandang, sisanya dua kali menang tipis. Pantas saja, PSIS musim ini memang hanya diperkuat oleh pemain-pemain muda jebolan PSIS Yunior. Umur mereka berkisar antara 19 sampai 23 tahun. Hanya ada dua pemain senior di sana: Idrus Gunawan, bek tengah sering luput yang sekarang menjabat kapten, dan Agus Murod, kiper kedua yang musim kemarin jarang diturunkan. Sisanya adalah pemain muda potensial namun kurang berpengalaman seperti Deny Rumba, Prananda Aditya dan Bangun Permana.

Ini efek dari keputusan Mendagri yang melarang pemberian bantuan terusmenerus kepada tim sepakbola profesional. DPRD Semarang pun tidak mau ambil resiko mendapat sanksi dari Mendagri, termasuk dengan tidak disetujuinya ‘penitipan’ dana PSIS melalui KONI. Bukan rahasia lagi jika selama ini tim-tim di Indonesia menggantungkan hidup dari APBD, di mana pada laporan keuangannya sering muncul pos-pos ‘siluman’.

Alhasil, pemain-pemain bintang macam Maman Abdurrahman, Muhammad Ridwan, Khusnul Yakin, Harri Salisburi, Modestus Setiawan hingga kiper I Komang Putra memilih untuk membela klub lain. Apalagi pemain-pemain asing seperti Julio Lopez, Fofee Kamara dan Zoubairou yang langsung jadi incaran klub-klub lain.

Posisi pelatih juga kerap berganti. Edy Paryono yang menjadi pelatih kepala pada awal musim dipecat setelah hasil buruk berturut-turut. Dia digantikan oleh Bambang Nurdiansyah, pelatih spesialis pemain muda, yang sebelumnya juga dipecat oleh Arema Malang. Bambang bukan sosok baru di PSIS. Pada musim 2005, Bambang sukses membawa PSIS menjadi juara III kompetisi.

Ada hal menarik terkait kondisi keuangan tim PSIS. Coach Bambang dikontrak bukan dalam bentuk uang, namun dengan sebidang tanah seluas 1 hektar di kawasan Ungaran. “Tapi untuk gaji tiap bulannya saya tetap mendapat uang lah, masak saya mau makan tanah,” kata Bambang. Penghematan juga dilakukan dalam semua hal. Ketika bertandang ke gelora Bung Karno melawan Persija Jakarta, PSIS memilih untuk melakukan perjalanan darat selama 10 jam. Padahal biasanya mereka naik pesawat. Sebagian besar pemain juga belum pernah bermain di stadion kebanggaan nasional itu. Hanya Agus Murod, Idrus dan Deni Rumba yang pernah. Rumba pernah mencicipi rumput Senayan ketika memperkuat Timnas U-23. Sehari setelah bertanding, harian Kompas menampilkan fakta menarik tentang PSIS: “… jumlah nilai kontrak seluruh pemain PSIS besarnya sama dengan nilai kontrak striker Persija Bambang Pamungkas. Bambang adalah pemain lokal ISL termahal musim ini yang dikontrak Persija dengan Rp 1,13 M…

Dan di Senayan, PSIS dibantai dengan 5 gol tanpa balas.

Partai melawan PSMS Medan kemarin mungkin adalah puncak dari kesialan PSIS. Untungnya PSIS bisa meraih hasil seri 1-1. Minggu berikutnya mereka mengalahkan PSM Makassar dengan skor tipis 1-0 melalui pertandingan keras menjurus kasar, dan menang 1-0 atas Deltras Sidoarjo lewat gol penalti Gaston Castano. PSIS bisa sedikit bernafas lebih lega karena menjauh dari zona degradasi, namun mereka kehilangan manajer tim Yoyok Sukawi yang dihukum 6 bulan tidak boleh mendampingi tim.

Ah, ah, ah, PSIS-ku yang malang…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s