ketika kematian menyapa kita

Beberapa bulan terakhir ini beberapa kejadian yang mengejutkan sekaligus menyedihkan terjadi. Empat orang yang dekat denganku atau yang kukenal meninggal dunia karena alasan yang berbeda-beda.

Yang pertama terjadi sekitar akhir Juli lalu. Dony, teman SMA-ku yang kuliah di UGM, meninggal karena kecelakaan di Sleman. Dony orangnya lumayan gaul, dan sewaktu SMA pernah menjabat sebagai Ketua II Rohis.

Hanya berselang beberapa hari, ibunya Anggid meninggal karena sakit. Kata Anggid, ibunya sakit komplikasi lever dll, dan lupus. Padahal sekitar dua minggu sebelumnya aku dan teman-teman sempat menjenguk beliau di RS Moewardi. Waktu itu Widhi berbisik padaku, menurut kabar kondisinya memang sudah tidak memungkinkan lagi untuk bertahan lebih lama.

Yang ketiga pada 28 Agustus 2008, Om Budi, suami dari Bulik Endang adik Ayahku, dipanggil Yang Maha Kuasa. Beliau terkena stroke sejak 3-4 tahun terakhir yang membuatnya kehilangan kemampuan berjalan dan berbicara normal. Badannya yang kurus kering tidak lagi menunjukkan sisa kejayaan masa mudanya ketika masih aktif di Marinir AL. Amelia, adik sepupuku yang masih kelas 2 SMP, menjadi anak yatim.

Terakhir, 16 September 2008 kemarin, giliran Rany Widhi Tyasanti, teman kuliahku, juga karena sakit. Beberapa waktu terakhir dia hanya tergolek di tempat tidur karena tidak bisa jauh-jauh dari tabung oksigen. Selain paru-paru, Rany juga memiliki masalah dengan pencernaannya. Sejak dulu badannya sangat kurus dan susah sekali gemuk, yang membuatku heran darimana dia mendapatkan tenaga untuk menjadi seaktif itu.

Dony, Om Budi, ibunya Anggid dan Rany. Keempat orang ini membuatku berpikir tentang semua hal. Rany adalah teman curhatku tentang NK pada awal-awal kuliah dulu, dan di angkatan kami dia adalah teman yang paling dulu ‘pergi’. Anggid adalah teman baikku, dan aku benar-benar kagum melihat bagaimana Anggid bisa bertahan setelah kehilangan ibu yang dicintainya. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana bila hal yang sama terjadi padaku.

Ketika pagi Om Budi meninggal, Lia sendiri yang memberitahuku lewat SMS. Lebih membuatku tercengang lagi ketika Ibuku bercerita bahwa Ayahku, yang sifatnya keras itu, bisa sampai menangis justru karena melihat Lia sebegitu tabahnya dan tidak menangis sama sekali. Kematian Om Budi adalah kematian kedua di rumah kami setelah Mbah Kakung pada 1980.

Dan meskipun aku tidak terlalu dekat dengan Dony, malam setelah kematiannya aku sempat tidak bisa tidur. Aku bepikir lama tentang life and death, dan takut membayangkan bila kematian itu justru menjemputku ketika aku tidur, bukan karena kecelakaan.

***

Aku berpikir, ada 6 milyar orang di muka bumi ini, ada 220 juta jiwa lebih di Indonesia, dan kenapa Allah justru memilih orang-orang yang kukenal, orang-orang yang dekat denganku?

Kenapa Allah tidak memilih seseorang di pedalaman Afrika sana, atau pria dari Kepulauan Fiji nun di tengah Pasifik saja? Kenapa bukan George W Bush, Ariel Sharon, atau –kalau mesti yang dekat-dekat saja—kenapa bukan anggota-anggota DPR yang korup itu saja?

Tapi aku kemudian berpikir, everything happens for a reason. Allah pasti punya alasan untuk semua hal, termasuk kenapa Dia memilih untuk memanggil empat orang itu. Dan aku yakin, salah satu alasannya adalah karena Allah ingin memperingatkan kita.

Kematian itu sangatlah dekat dengan kita. Seperti detik berikutnya yang akan ditunjuk oleh jarum jam. Seperti huruf berikutnya ketika kita menulis. Seperti langkah berikutnya ketika kita berjalan. Bahkan lebih dekat lagi, lebih dekat daripada urat leher kita.

It can happen to anyone of us, and the time is running out… Dan sudahkah kita mempersiapkan diri kita?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s