ten things I *hate* about Lebaran

Ada sepuluh hal yang aku “benci” dari Lebaran. Catet ya, “benci”, bukan benci.

H-1. Taun ini aku mudik H-1. Itu berarti aku masih ada di kos sampe sehari sebelum Lebaran, di mana sehari sebelum Lebaran adalah masih bulan puasa. Tapi walopun masih bulan puasa, warung-warung makan dah pada tutup semua. Bahkan hik pun dah ilang. Malem H-1 aku masih begadang sama Yudha dan Nopek sampe jam 12 malem. Pas mau tidur, mereka malah bilang, “Ngapain tidur segala? Puasa terakhir ini,” kata mereka. Tapi aku tetep tidur setelah masang jam weker di posisi jam 2.30 buat makan sahur. Dan tau aku bangun jam berapa? Setengah tujuh. Sialan, anak-anak ga ada yang bangunin aku sahur, pikirku. Udah gitu pas aku mau ngelabrak mereka ke kamarnya, mereka berdua telah lenyap dengan barang-barangnya, mudik duluan meninggalkan aku di kos sendirian. Anjriiittt…

Mudik. Bayangin aja gimana repotnya mesti packing barang-barang ke dalam tas, udah gitu mesti menempuh perjalanan 2,5 jam, siang hari pas puasa terakhir, macet lagi. Tapi masih mending aku naik motor, jadi ga perlu repot ngantri tiket atau desak-desakan di bus.

Rame. Karena mbah putriku tinggal di rumahku, maka rumahku adalah tempat tujuan mudik yang selalu rame tiap Lebaran. Keluarga dari Jogja, keluarga dari Jakarta, semua pulang ke Magelang. Dan biasanya mereka tidur di kamarku. Ga masalah sih, wong biasanya kalo pulang aku juga tidur di depan tv kok. Tapi taun ini karena kamarku dipake juga, aku terpaksa naruh barang-barangku di kamar ibuku. Ribet, jadi ga punya privasi.

Ketemu sodara dan tetangga yang dah lama ga ketemu. Sebenarnya seneng sih ketemu mereka. Tapi kadang-kadang kaget juga kalo tau kabar mereka sekarang. Nia adik sepupuku yang umurnya setaun lebih muda, habis Lebaran ini dilamar sama pacarnya. Mbak Sari, sepupu jauh yang teman SMP-ku, sekarang dah kerja di Pertamina. Nah, yang paling kaget pas Ayah cerita kalo menantu dari Bah Minyik, tetangga kita, nyalon jadi wakil Bupati Magelang. Namanya Ir H Ady Setyawan. “Itu lho, suaminya Lia,” kata Ayah. Anjrit. Lia itu teman SD-ku. Aku malah ga tau kalo dia dah nikah, dan sekarang suaminya nyalon jadi wakil bupati. Bayangin. Teman SD-ku jadi calon ibu wakil Bupati Magelang. Aku, skripsi aja ga slesai-slesai.

Pertanyaan-pertanyaan menohok. Dan tahun ini pertanyaan yang paling sering diajukan adalah: “Dah semester berapa sekarang?”. “Eeennngg…semester akhir mbah, dah mau selesai,” itu jawaban standarku tahun ini. “Tahun ini selesai mbah,” timpal Ayahku. Dan kalau aku tidak salah dengar, ada penekanan pada kata tahun ini yang lebih ditujukan padaku. Sepertinya ada sedikit nada ancaman di sana. Hwaduhh…

Ketupat, opor ayam, rendang, kue-kue… Ini dia yang ditunggu-tunggu oleh anak-anak kos yang biasanya kelaparan. Makan daging, banyak, berkali-kali. Tapi aku ga terlalu suka ketupat sih, jadi tiap kali disuruh makan aku selalu memilih nasi. Lagian nasi lebih gampang dicerna, jadi bisa dengan cepat berpindah ke piring lainnya. Eh sampe aku balik ke Solo malah belum jadi makan ketupat sama sekali.

Muter-muter alias silaturahim. Kebetulan jumlah keluargaku lumayan banyak. Saudara ibuku ada 8, saudara ayahku ada 6. Belum lagi saudara-saudara jauh yang statusnya wajib dikunjungi. Jadwal rutin Lebaran hari pertama adalah tetangga-tetangga dan kerabat se-Grabag. Ini biasanya selesai Maghrib. Hari kedua, ke Temanggung dan Wonosobo. Ada 3 tempat, tapi nyampe rumah biasanya Maghrib juga. Hari ketiga, Salatiga. Dua tempat, pulangnya sekitar Ashar. Hari keempat ke Jogja atau ke tempat saudara-saudara yang belum sempat didatangi. Hari kelima baru ketemu sama teman-teman SMP, SMA, atau acara-acara reuni. Capeeekkk…

Angpao! Agak mengherankan juga. Umurku dah 23, tapi masih saja ada sodara atau kerabat yang memberiku angpao. Padahal harusnya aku dah ngasih angpao ke adik-adikku yak? Tapi tentu saja ini berkaitan dengan jawaban dari pertanyaan menohok no.1. Dan karena aku selalu menjawab “masih kuliah, budhe” maka otomatis aku akan mendapatkan salam tempel dengan diiringi kalimat “nih, buat beli bensin”. Dan jumlahnya, wuih, lumayan bisa bikin tanki bensin motorku meluap-luap kepenuhan, hehehe…

Reuni.

Kenangan. Untuk dua poin terakhir ini akan aku bahas dalam tulisan tersendiri. Banyak yang mau aku omongin soalnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s