1

jasmine

Ternyata benar, Allah maha mengetahui segala sesuatu. Dia tahu mana yang baik dan buruk untuk kita. Sesuatu yang kita anggap baik, mungkin saja menurut Allah buruk. Begitu juga sebaliknya. Hanya saja kita terlalu bodoh untuk mengetahui makna di balik setiap peristiwa.

Begitu juga dengan cobaan terakhir yang Allah beri untukku. Aku tak habis pikir, kenapa Allah menjauhkannya dariku? Kenapa Allah tak memberiku kesempatan untuk bersamanya lagi? Kalau memang aku tak bisa bersamanya, kenapa Allah mendekatkan kami lagi? Padahal aku sangat mencintainya. Padahal dia adalah the centre of my universe. Padahal aku merasa tak berarti tanpanya.

Dan jawaban Allah datang secepat aku menginginkannya. Saat itu juga.

Aku sedang berada di teras rumah, sedang mengasuh Jasmine, keponakanku. Anak kecil berusia 15 bulan yang imut, lucu dan menggemaskan. Aku duduk bersila di pintu, melamun memikirkan pertanyaan-pertanyaan tadi, sementara dia duduk di depanku bermain botol kosong.

Tiba-tiba saja dia mendekatiku, memelukku, kemudian mencium keningku. Lama. Aku kaget, ada apa dengan anak ini? Apa dia sedang teringat dengan ayahnya yang tengah bekerja di luar Jawa? Atau dia ingin menunjukkan rasa kangennya pada pakdhe-nya yang sudah 2 bulan lebih tak bertemu? Dia melepas pelukannya, tersenyum lucu, dan kembali asyik bermain dengan botol kosong.

Aku masih bingung dengan tingkahnya yang aneh itu ketika dia kembali berdiri dan mendekatiku. Kali ini dia memegang tanganku, kemudian mengusap-usapkannya di kepalanya. Aku semakin bingung. Apa yang ada di kepala anak ini? Tapi kembali dia cuma tersenyum padaku, senyum khas anak kecil.

Akhirnya, dia berdiri tepat di depanku, menjulurkan tangannya ke depan, kemudian menepuk-nepuk kepalaku seperti seorang ayah menepuk-nepuk kepala anaknya. Seolah ingin menyemangatiku. Lagi-lagi dia tersenyum, namun senyumnya kali ini jauh lebih lebar dari senyumnya yang sebelumnya.

Dan tiba-tiba kesadaran itu datang, menelusup dingin menyejukkan sanubari, seperti hujan yang turun di tanah kering. Inilah jawaban itu. Inilah jawaban Allah atas pertanyaan-pertanyaanku, atas protes-protesku. Dan Allah menjawabnya melalui Jasmine, anak kecil berusia 15 bulan, yang bahkan belum bisa bicara dengan jelas, yang untuk berjalan saja dia masih terjatuh-jatuh.

Aku merasa malu pada Jasmine. Jasmine yang kekurangan kasih sayang seorang ayah, Jasmine yang jauh dari ayahnya, Jasmine yang justru lebih dekat dengan pakdhe dan eyangnya, Jasmine yang setiap kali aku pulang dia tak mau turun dari gendonganku. Jasmine yang tiap kali jatuh dia berusaha bangun sendiri tanpa menangis. Jasmine yang imut, lucu dan menggemaskan.

Aku teringat isi SMS yang pernah dikirimkan seorang teman yang isinya (kurang lebih) seperti ini:

“Ketika aku berdoa agar diberi cinta, Allah tidak mengirimiku seseorang yang mencintaiku. Allah justru memberiku orang-orang yang butuh perhatian dan kasih sayang untuk kucintai. Agar aku bisa belajar mencintai, dan berusaha menjadi orang yang lebih layak untuk dicintai…”

Kurengkuh Jasmine, kupeluk dia erat-erat, kucium pipinya yang tembem dan kubisikkan di telinganya:

“Terima kasih,sayang…”

 *tulisan ini ditulis pertengahan tahun 2010, sempat hilang, dan baru bisa dimuat sekarang.

 

 

2

Obama and his dreams

Senin (22/03) malam saya nonton wawancara eksklusif Putra Nababan, reporter RCTI dengan Presiden Barack Obama di White House. Putra bertanya tentang macam-macam hal terkait hubungan antara Indonesia-AS. Tak lupa dibahas adalah tertundanya kunjungan Obama ke Indonesia, serta pengalaman-pengalaman dari masa kecil Obama. Nah, salah satu pertanyaan Putra adalah apakah benar ketika kecil Obama bercita-cita menjadi Presiden. Jawaban Obama adalah (terjemahan):

“Itu tidak benar. Saya ingat ada guru saya yang mengatakan bahwa ketika berumur 6 tahun saya ingin menjadi Presiden. Tetapi seingat saya, ketika saya berumur 6 tahun saya hanya ingin menjadi seorang pemadam kebakaran.”

Saya melongo. Terus ngakak.

Ya ampuuun… Padahal di Indonesia sendiri sudah sering digembor-gemborkan bahwa Obama sejak kecil sudah bercita-cita menjadi Presiden. Dia dijadikan contoh bagi anak-anak di Indonesia –khususnya di SD Menteng—bahwa jika kita bercita-cita menjadi Presiden, kita benar-benar bisa menjadi Presiden –walaupun tidak di Amerika. Bahkan patung Obama kecil yang sekarang dipindahkan ke halaman SD Menteng pun bertuliskan:

“The future belongs to those who believe in the power of their dreams.”

Eh lhadalah, kok ternyata Obama kecil dulunya bercita-cita jadi pemadam kebakaran. ‘Cuma’ pemadam kebakaran.

Tapi saya lalu ingat artikel wawancara penulis Andrea Hirata dengan penggemarnya yang dimuat di Kompas beberapa waktu lalu. Salah seorang pembaca (lagi-lagi) bertanya pada Andrea, apakah novel Laskar Pelangi diangkat dari kisah hidup Andrea? Apakah tokoh Lintang, Mahar, dan Arai benar-benar nyata? Dan Andrea menjawab dengan bijak:

“Maya (nama penggemar itu-Red), yang terpenting bukanlah apakah kisah itu nyata atau tidak, apakah mereka benar-benar ada atau tidak. Yang terpenting adalah, apakah kisah itu bisa membuat Anda tergugah dan sadar, bahwa kita bisa meraih apapun yang kita cita-citakan.”

Begitulah.

0

Phoenix

Pertama saya minta maaf karena sudah sekian lama tidak membuat postingan baru di hopesandfears ini. Tulisan terakhir saya naik cetak sekitar delapan bulan yang lalu, dan itupun masih terkait soal skripsi. Delapan bulan tak bersua, dan begitu banyak hal yang terjadi selama masa itu. Hal-hal yang sangat-sangat fear dan sangat-sangat hope.

Tapi akan saya awali dulu tulisan ini dengan kalimat:

Assalamualaikum.

Kenapa saya menghilang selama delapan bulan, rasanya itu tak perlu saya ceritakan di sini. Terlalu sakit, terlalu shock, terlalu –bodoh. Biar saya saja –dan beberapa orang teman yang telanjur tahu—yang tahu.

Lalu soal judul tulisan ini. Phoenix. Kenapa phoenix?

Setahu saya, phoenix adalah seekor burung mitologi yang ada di beberapa kebudayaan kuno di dunia. Yang namanya mitologi, tentu saja diragukan apakah dia pernah benar-benar ada atau tidak. Sama halnya seperti toothfairy, santa, ogre, leprechaun, atau werewolf.

Tapi phoenix ini memiliki satu keunikan yang tidak dimiliki oleh makhluk mitologi lainnya. Phoenix tak bisa mati. Ketika menjelang ajalnya, phoenix akan terbakar dan berubah menjadi abu. Dari abunya itulah dia bangkit, muda lagi, hidup lagi, sampai ketika kematian datang dia akan kembali menjadi abu lagi. Begitu seterusnya.

Mati. Menjadi abu. Bangkit kembali. Hidup lagi.

Saya menyinggung tentang phoenix dalam tulisan ini karena mungkin phoenix-lah analogi yang tepat untuk merangkum semua hal yang terjadi pada saya selama delapan bulan terakhir. Beberapa masalah yang berawal dari kebodohan, kemudian berubah menjadi bencana yang masif, sampai saya merasa ‘habis’. Bagai abu. Dan apalagi yang bisa diharapkan dari seonggok abu?

Saya memang bukan phoenix. Tapi ketika saya mulai menyadari bahwa tak ada lagi yang bisa disesali, tak ada lagi yang perlu diratapi, dan tak ada luka yang tak sembuh selamanya, saya teringat dengan phoenix. Mungkin justru dari abu-lah kita bisa lahir kembali. Mungkin ketika semua impian musnah, ketika semua harapan hancur, setelah segalanya lenyap tak tersisa-lah kita bisa bangkit untuk menjalani kehidupan yang baru.

Mati. Menjadi abu. Bangkit kembali. Hidup lagi.

Phoenix.

1

sudah religi, mistik pula

Sudah horor, porno pula. Begitu judul salah satu artikel di yahoo.com. Kalimat ini ditujukan untuk menyebut tentang perfilman di Indonesia yang kini didominasi oleh film horor ‘plus-plus’. Apa plus-nya? Ya porno itu tadi.

Beberapa tahun lalu kita juga dibuat bosan dengan sinetron-sinetron bertema sudah religi, mistik pula. Sebenarnya sinetron-sinetron ini diawali dengan naik daunnya sinetron bertemakan religi yang diputar selama bulan Ramadhan. Beberapa produser kemudian mencoba ber-‘improvisasi’, menambahkan tokoh-tokoh ustadz yang bisa sihir dan siluman serta setan-setan aneh, dan jadilah sinetron religi-tapi-mistik itu.

Tapi berbicara tentang film Indonesia, ada satu kejadian yang mungkin agak menggelikan. Seperti yang dikisahkan oleh Rosihan Anwar dalam buku Indonesia 1966-1983: dari koresponden kami di Jakarta (Grafiti, 1992). Ini adalah buku kumpulan tulisan Rosihan Anwar semasa dirinya menjadi koresponden beberapa media asing.

Isi buku ini tak hanya melulu soal politik, tapi juga peristiwa-peristiwa yang unik dan menarik. Salah satunya seperti yang dimuat di Straits Times Singapura tanggal 27 Agustus 1980 dengan judul “mystic start for a controversial new film”. Artikel ini bercerita tentang kehebohan yang ditimbulkan oleh rencana sutradara Syuman Djaya yang hendak membuat film tentang Wali Sanga, sembilan pemimpin agama yang menyebarkan Islam di Jawa sejak tahun 1416. Untuk pembaca di luar negeri, Rosihan tak lupa memberikan sedikit sejarah tentang Wali Sanga.

“Wali pertama, Maulana Malik Ibrahim, seorang saudagar yang mungkin aslinya datang dari Persia (Iran) ke gugusan pulau-pulau Indocina. Wali kedua, Sunan Ampel, membuka sebuah madrasah di Ampel, dekat Surabaya, dan meninggal pada tahun 1481. dia juga orang asing. Sesungguhnya beberapa tahun yang silam, Prof. Slamet Mulyana menulis salah satu dari para Wali mestilah dari keturunan Cina. Keterangan ini tidak disambut baik oleh umum. Wali terakhir meninggal pada 1570. Kisah-kisah mengenai mukjizat yang dapat mereka lakukan banyak sekali, seperti berjalan di permukaan laut dan mengubah beras menjadi pasir. Akan tetapi adalah suatu kenyataan sejarah mereka membawa Islam ke Jawa secara damai dan dalam usaha dakwah memperlihatkan toleransi yang boleh ditiru liberalisme.

“Segala sesuatu mengenai film Syuman Djaya Wali Sanga tampak kolosal. Panjang film akan menjadi enam jam, masa produksinya satu tahun dan diperkirakan biaya produksinya Rp 1,2 miliar. Syuman berkongsi dengan pengusaha Masagung, 52 tahun, beragama Islam, dulu bernama Tjio Wie Tai. Baru-baru ini pada bulan Ramadhan Syuman mengadakan konferensi pers bersama Masagung di Mandarin Hotel (Masagung adalah seorang pemegang saham hotel itu), disusul oleh buka puasa yang dihadiri oleh Wakil Presiden Adam Malik. Dalam konferensi pers diungkapkan data paling aneh mengenai produksi film yang akan datang.

“Syuman mengumumkan dia akan memainkan peran Sunan Kalijaga alias Raden Said atau Gan Si Chang, Kapten Cina di Semarang. Masagung akan berperan sebagai Sunan Gunung Jati. Para pemain (cast) juga mencakup Ratno Timur, Sukarno M. Noor, penyair W.S. Rendra, aktris Yenny Rachman dan Ny. Diantinah Bambang Supeno, tunangan mantan Menteri Luar Negeri Dr. Subandrio yang kini ditahan.

“Syuman bilang dia pilih pemainnya melalui seorang medium, yaitu Ny. Fuad Muntaco alias Pangrukti Aji, wanita berusia pertengahan tiga puluhan tahun yang mengatakan mempunyai kontak langsung dengan ‘roh’ Sunan Kalijaga yang memberikan kepadanya dawuh (instruksi) mengenai siapa yang paling cocok memainkan peran tertentu dan bagaimana jalannya cerita film seharusnya. Selama pertemuan dengan pers, medium itu dibantu oleh Masagung dan Syuman Djaya melaksanakan sebuah upacara spiritual untuk memamerkan bakatnya, tetapi diterima dengan skeptisisme oleh para reporter. Segera setelah peristiwa itu diberitakan dalam pers, timbul tanggapan tajam dari khalayak.

“Ulama terkemuka Dr. Hamka, Ketua Majelis Ulama Indonesia, meramalkan film itu akan ditolak oleh masyarakat dan rakyat di daerah-daerah yang banyak penduduk Islamnya akan berdemonstrasi terhadap film tersebut. Film itu berbau ‘kebatinan’ dan ‘mistik’, ujar Hamka. Seorang anggota DPR juga melahirkan keprihatinannya. Komentar pers bersifat kritis terhadap ‘petualangan’ Syuman Djaya. Majalah Aktuil menulis, ‘Kami telah bosan dengan timbulnya dalam sejarah Indonesia para petualang yang memproklamasikan diri mereka sebagai nabi-nabi’. Dan aktor Slamet Rahardjo yang tadinya diberikan peran mengumumkan bahwa ia mengundurkan diri dari film Wali Sanga.”

Tak ada keterangan yang jelas mengenai kelanjutan proyek ini. Sepertinya film ini tak jadi dibuat karena kontroversi yang ditimbulkan bahkan sebelum syutingnya dimulai. Hmm, film religi tapi awalnya saja sudah mistis? Hmmm…J.

5

obrolan bodoh: the room of love

bodoh 1: Kayaknya kamu dah bakal lulus dalam waktu dekat ini deh.
bodoh 2: Kenapa gitu?
bodoh 1: Soalnya kisah cintamu dah mulai berakhir satu persatu.
bodoh 2: Kok bisa? Apa hubungannya?
bodoh 1: Si Arif penghuni kamarmu sebelumnya juga dulu kayak gitu. Rajin ngerjain skripsi, lulus cepet, eh habis itu malah putus sama pacarnya.
bodoh 2: Lha terus??
bodoh 1: Buktinya kamu kemarin putus. Ujian skripsi juga tinggal menghitung hari.
bodoh 1: Kayaknya tuah ‘kamar cinta’ dah mulai menghilang. Bentar lagi kamu pasti kluar dari kamar itu.
bodoh 2: ???????

3

penyesalan

adakah penyesalan yang terjadi di muka?

adakah suatu hal memiliki label peringatan di atasnya:

“jangan lakukan atau kau akan menyesal”?

adakah penyesalan yang tak menyakitkan?

adakah?


Hidup tak pernah semulus itu.

Kita mendapatkan pengalaman baru dari rasa manis, tapi kita belajar segala sesuatu dari rasa pahit.